Mempelajari filsafat itu mempelajari tata cara. Belajar itu memiliki norma-norma, manusia berjalan saja memiliki norma. Dalam ibadahnya seorang muslim salah satunya yaitu sholat, tata cara beribadah sholat adalah beribadah itu sendiri. Tata cara tersebut yaitu seperti dari awal mengambil air wudhu untuk mensucikan diri. Berfilsafat cukup dengan dua bekal yaitu yang pertama adalah berpikir logika, kritis, rasional. Dan yang kedua adalah pengalaman hidup.
Pengalaman-pengalaman hidup
setiap orang berbeda-beda. Apakah sebenarnya yang merupakan sebuah kepastian
dari nenek moyang merupakan sebuah kebenaran yang harus diikuti? Kedua bekal
inilah yang akan melandasi berpikir secara filsafat dan menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang muncul selama belajar filsafat.
Seperti yang disampaikan Bapak
Marsigit bahwa “2+3=5” kontradiktif secara filsafati karena sebenar-benarnya
bahwa “2+3” belumlah sama dengan “5” sebelum mampu membuktikannya. Dengan
adanya teori-teori dan ilmu pengetahuan sekiranya dapat membuktikan olah pikir
yang terhenti. Namun kenyataannya ada teori-teori yang kurang sesuai dalam
kehidupan ini dan kadang kehidupan ini tidak selalu diikuti oleh teori-teori atau
ilmu-ilmu pasti. Sehingga agama menjadi titik akhir dari suatu pemikiran jauh
manusia dalam mencari arti kehidupan yang tidak bisa didapatkan dalam filsafat
dan sains (ilmu).
Pertanyaan :
Bagaimana cara mempelajari filsafat agar tidak
salah arah, tidak salah arti, dan tidak salah penafsiran?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar