Batu
juga merupakan dis harmoni. Dis harmonis ini akan memunculkan sifat yang
absolute seperti mengejar sebuah kepuasan atau kenikmatan. Jika yang dikejar
hanya kesenangan atau kenikmatan dalam filsafat disebut hedonism. Contohnya
adalah manusia pemalas yang kerjaannya hanya tidur jika ada tugas. Ukuran
kebenaran adalah kenikmatan yaitu hedonism. Manusia yang hedonism membentuk
kelompok kaum yang bahagia, pengejar kenikmatan. Lawan dari batu yang lebih
lembut dari udara, filsafatnya adalah transenden. Penghuni transenden adalah
para dewa. Dewa itu adalah dirimu, dirimu dewa terhadap sifat-sifatmu, jika
pemalas maka dirimu sebenar-benar dewa pemalas. Dewa itu dimensinya lebih
tinggi dari sifat-sifatnya itu. Maka engkau adalah dewa bagi diirmu. Karena
engkau yang berkuasa. Contohnya seseorang yang berkorupsi hanya ditangkap oleh
KPK. Kemudian orang tua adalah transenden bagi anak-anaknya. Seorang kakak
transenden bagi adik-adiknya. Guru adalah dewa bagi siswanya. Dewa sebetulnya
ilmunya transenden. Belajar filsafat itu sebenarnya belajar bahasa para dewa.
Tidak mungkin seseorang mengikuti suatu acara yang sendirinya tidak tahu
ilmunya.
Diam
dan tidak melakukan apapun adalah orang yang paling bodoh dalam filsafat
disebut batu, yaitu orang-orang yang percaya mitos. Orang yang masih diterkam
oleh mitos, maka fungsi filsafat adalah untuk mencerdaskan untuk meengeluarkan
dari ruang dan waktu yang gelap. Orang yang percaya mitos tersebut senantiasa
dihantui oleh perasaan yang khawatir. Kekhawatiran tersebut berupa keraguraguan
yang ada di dalam diri. Keraguraguan tersebut muncul akibat rasa percayadiri yang
berkurang bahkan mulai hilang. Dis harmoni yang lain adalah ketidak seimbangan.
Meraih
logos adalah meraih kecerdasan. Logos adalah orang yang cerdas dan berilmu.
Sehingga dalam berfilsafat itu berjuang meraih kecerdasan. Selanjutnya sakit
itu adalah dis harmoni. Bagaimanakah cara memperoleh yang ideal. Caranya ada
dua macam idealisasi dan abstraksi. Contohnya segitiga, segitiga jika di dalam
pikiran itu tidak ada warnanya, tidak ada tebal. Lancip dalam pikiran itu
merupakan sebuah kesempurnaan. Di dunia ini tidak ada yang lancip. Jika sesorang bersikeras menganggap benda itu
lancip maka salah. Karena misalkan pada sebuah pensil yang lancip jika
ditelusiri sebenarnya tidak lancip. Hal ini dari konsep atom, elektro, dan
proton bahwa atom bergerak melingkar, sehingga tidak ada di dunia ini yang
lancip. Lancip merupakan gambaran, sifat lancip atau sempurna hanya dimiliki
oleh Allah SWT.
Dialek
atau praktek itulah dialektivisme, yaitu dengan cara bertanya. Yang benar 2
adalah dualism, yaitu bahaya dan manfaat dari suatu konteks. Contohnya adalah
manusia ada dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Dualisme itu penting,
hanya masalahhnya jika orang yang tidak kerja itu tidak kreatif dan tidak
efektif. Sedangkan plural itu diantara salah dan benar itu ada suatu ruang.
Ruang tersebut adalah olah piker. Yaitu bagaimana kita dapat memikirkan adanya
orang laki-laki dan perempuan.
Subjektivisme
adalah jika yang benar adalah diriku. Segala yang berhubungan dengan
dirinyalahh yang dia anggap benar. Obyektivisme adalah lawan dari
seubjektivisme. Sedangkan yang benar adalah yang pasti yaitu absolutism. Tuhan
itu absolutism, karena Tuhan itu pasti. Dan yang benar adalah diluar batas
yaitu transendenisme. Yaitu dewa, sedangkan dewa itu adalah dirimu.
Kapitalisme
adalah jika yang benar adalah yang untung. Filsafat ini berhubungan dengan
materialism. Segala sesuatu diukur dengan besarnya keuntungan yang didapat.
Seseorang mau bekerja jika dia dapat untung, dapat manfaat. Dalam hal ini
segala sesuatu diukur dari ekonomi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar