filsafatku...pola pikirku.....

Rabu, 23 Januari 2013

FILSAFAT



Merenung bukan berarti melamun, meratap, atau hanya sekedar berimaji tanpa arti. Tetapi ke arah introspeksi diri yang mendalam agar lebih dekat dengan Tuhannya. Merenung adalah berkaca. Berkaca terhadap diri sendiri. Berkaca dalam pengertian merefleksikan diri sendiri. Yaitu mengintrospeksikan diri sendiri.
Banyak orang merenung  dikala apa yg menimpa kepada mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, kesedihan, kekecewaan, kegagalan. Tetapi dikala mereka memperoleh kesenangan, kegembiraan, keberhasilan mereka lupa, tidak merenungi dan berfikir siapa yg memberi kenikmatan itu. Biasa kah kita merenungi bagaimana kualitas kita sebagai hamba Allah SWT? Bagaimana kualitas kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW?  setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan bahkan tahun, kita diberi oleh-Nya nikmat yg tak terhitung jumlahnya,terpikirkah kita nikmat itu kita gunakan untuk apa? Lebih mndekatkan kepada-Nya atau malah sebaliknya?   Pernahkah kita merenung dan berpikir untuk apa kita dilahirkan ke dunia? Apakah kita tahu harapan kedua orang tua kita?dan mampukah kita membahagiakan keduanya?membuat mereka tersenyum bangga dan bahagia kepada kita sebagai anaknya, bukan sebaliknya melihat tangisan kepiluan dan kesedihan dimata mereka akibat perbuatan kita.  Merenung untuk introspeksi diri adalah jalan terbaik.  Merenung bukan berarti membuat kita lemah, justru memotivasi kita untu berbuat yg lebih baik agar lebit dekat dengan sang Khaliq. Kita diciptakan bukan untuk menjadi manusia angkuh dan bukan pula menjadi manusia yg lemah terhadap tantangan zaman. Lihatlah setiap bayi yg lahir tangannya selalu mengepal, itu sebagai kiasan mereka mempunyai semangat yg kuat untuk berjuang menjalani kehidupan.
Dalam kehidupan sehari-hari rasa ingin tahu mempunyai dua sisi, sisi baik dan sisi buruk. Dimana kedua sisi tersebut dapat di atur oleh masing-masing individu kita sehingga tidak terjadi sesuatu yang buruk menimpa kita saat mencari pengetahuan. Dalam sejarah banyak tercatat para penemu-penemu seperti albert einstein membuat ciptaan-ciptaannya dari rasa ingin tahu. Kita sekolah dan mencari ilmu juga untuk melatih kemampuan diri kita untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih, dalam hal ini itu merupakan rasa ingin tahu yang termasuk dalam sisi baik. Namun beberapa orang yang terlalu tinggi rasa ingin tahunya sehingga membuatnya seperti kecanduan yang dapat menyebapkan masalah yang besar bagi dirinya. Beberapa contoh kasus yang kita temui dewasa ini, masalah narkoba kebanyakan adalah didorong oleh rasa ingin tahu yang berlebihan sehingga orang tersebut rela menggunakan dirinya sebagai percobaan akan rasa ingin tahunya tersebut.
Untuk mengatur hal tersebut harus ada keseimbangan antara rasa ingin tahu dan pengetahuan yang mendukung tentang hal-hal tersebut. Kita perlu mencari informasi yang mendukung tentang rasa penasaran kita terhadap sesuatu dan memikirkannya dengan dingin sehingga bisa mencegah kita terjerumus dalam hal-hal buruk. Rasa ingin tahu akan seks juga membuat kita terjebak dengan masalah-masalah yang pasti merugikan diri kita sendiri. Ada beberapa hal yang memang kita harus mengetahuinya, tapi cukup sebatas mengetahui tanpa melakukannya karena kita tentu tidak mau menanggung akibat buruknya.
Hal yang paling berat dalam menghadapi hidup adalah melawan diri sendiri, melawan diri sendiri ketika mengalami rasa ingin tahu akan sesuatu. Berfikir sejenak sebelum melakukan suatu hal dapat menjadi senjata ampuh untuk melawan rasa ingin tahu yang berlebihan, sehingga kita bisa mengontrol hal-hal buruk yang akan menimpa kita. Terlebih lagi jika kita bisa mengambil sisi positif dari rasa ingin tahu tersebut sehingga kita mungkin bisa menemukan sesuatu yang bisa berguna bagi khalayak banyak.
Di dalam semua aspek hidup, orang harus selalu menggunakan empat cara berpikir. Dengan empat cara berpikir ini, orang bisa mempertimbangkan segala sesuatu secara jernih. Dengan empat cara berpikir ini, orang bisa mencapai kebahagiaan.
Yang pertama adalah pola berpikir analitis. Analitis adalah tindakan memecah keseluruhan ke dalam bagian-bagian. Dengan cara ini masalah, apapun bentuknya, bisa dipahami dengan lebih sederhana. Dengan cara ini pula, orang bisa bekerja dengan tepat guna.
Yang kedua adalah pola berpikir kritis. Kritis berarti orang tidak mudah percaya. Sebelum percaya atau menganut sesuatu, orang perlu untuk mempertanyakannya, sampai ia menemukan dasar yang kokoh untuk percaya. Dengan berpikir kritis orang tidak mudah terombang ambing oleh kabar burung yang meresahkan.
Yang ketiga adalah pola berpikir teknis. Berpikir teknis berarti berpikir tentang bagaimana cara melakukan sesuatu, mulai dari cara menjual barang, sampai memperbaiki mesin yang amat mekanistis. Berpikir mekanis berarti menyelesaikan masalah jangka pendek dengan tepat guna.
Yang keempat adalah berpikir reflektif. Dengan cara berpikir ini, orang diajak melihat ulang apa yang telah dilakukannya. Ia diminta melihat sisi baik maupun sisi lemah dari sikap hidupnya. Dengan menjalani proses ini, orang dipastikan akan selalu peka pada kelemahan diri maupun lingkungannya.
Pertanyaan :
Filsafat adalah pola pikir. Bagaimana jika seseorang berpikir jika pola pikirinya yang benar dan selalu benar?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar