Merenung
bukan berarti melamun, meratap, atau hanya sekedar berimaji tanpa arti. Tetapi
ke arah introspeksi diri yang mendalam agar lebih dekat dengan Tuhannya.
Merenung adalah berkaca. Berkaca terhadap diri sendiri. Berkaca dalam
pengertian merefleksikan diri sendiri. Yaitu mengintrospeksikan diri sendiri.
Banyak
orang merenung dikala apa yg menimpa
kepada mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, kesedihan,
kekecewaan, kegagalan. Tetapi dikala mereka memperoleh kesenangan, kegembiraan,
keberhasilan mereka lupa, tidak merenungi dan berfikir siapa yg memberi
kenikmatan itu. Biasa kah kita merenungi bagaimana kualitas kita sebagai hamba Allah SWT? Bagaimana kualitas
kita sebagai umat Nabi
Muhammad SAW? setiap
detik, menit, jam,
hari, minggu, bulan bahkan tahun, kita diberi oleh-Nya
nikmat yg tak terhitung jumlahnya,terpikirkah
kita nikmat itu kita gunakan untuk apa? Lebih mndekatkan
kepada-Nya atau malah
sebaliknya? Pernahkah
kita merenung dan berpikir untuk apa kita dilahirkan ke dunia? Apakah kita tahu
harapan kedua orang tua kita?dan mampukah kita membahagiakan keduanya?membuat
mereka tersenyum bangga dan bahagia kepada kita sebagai anaknya, bukan
sebaliknya melihat tangisan kepiluan dan kesedihan dimata mereka akibat perbuatan kita.
Merenung untuk introspeksi diri adalah jalan
terbaik. Merenung bukan
berarti membuat kita lemah, justru memotivasi kita untu berbuat yg lebih baik
agar lebit dekat dengan sang Khaliq. Kita diciptakan bukan untuk menjadi manusia
angkuh dan bukan pula menjadi manusia yg lemah terhadap tantangan zaman.
Lihatlah setiap bayi yg lahir tangannya selalu mengepal, itu sebagai kiasan
mereka mempunyai semangat yg kuat untuk berjuang menjalani kehidupan.
Dalam
kehidupan sehari-hari rasa ingin tahu mempunyai dua sisi, sisi baik dan sisi
buruk. Dimana kedua sisi tersebut dapat di atur oleh masing-masing individu
kita sehingga tidak terjadi sesuatu yang buruk menimpa kita saat mencari
pengetahuan. Dalam sejarah banyak tercatat para penemu-penemu seperti albert
einstein membuat ciptaan-ciptaannya dari rasa ingin tahu. Kita sekolah dan
mencari ilmu juga untuk melatih kemampuan diri kita untuk mendapatkan
pengetahuan yang lebih, dalam hal ini itu merupakan rasa ingin tahu yang
termasuk dalam sisi baik. Namun beberapa orang yang terlalu tinggi rasa ingin
tahunya sehingga membuatnya seperti kecanduan yang dapat menyebapkan masalah
yang besar bagi dirinya. Beberapa contoh kasus yang kita temui dewasa ini,
masalah narkoba kebanyakan adalah didorong oleh rasa ingin tahu yang berlebihan
sehingga orang tersebut rela menggunakan dirinya sebagai percobaan akan rasa
ingin tahunya tersebut.
Untuk
mengatur hal tersebut harus ada keseimbangan antara rasa ingin tahu dan
pengetahuan yang mendukung tentang hal-hal tersebut. Kita perlu mencari
informasi yang mendukung tentang rasa penasaran kita terhadap sesuatu dan
memikirkannya dengan dingin sehingga bisa mencegah kita terjerumus dalam
hal-hal buruk. Rasa ingin tahu akan seks juga membuat kita terjebak dengan
masalah-masalah yang pasti merugikan diri kita sendiri. Ada beberapa hal yang
memang kita harus mengetahuinya, tapi cukup sebatas mengetahui tanpa
melakukannya karena kita tentu tidak mau menanggung akibat buruknya.
Hal
yang paling berat dalam menghadapi hidup adalah melawan diri sendiri, melawan diri sendiri
ketika mengalami rasa ingin tahu akan sesuatu. Berfikir sejenak sebelum
melakukan suatu hal dapat menjadi senjata ampuh untuk melawan rasa ingin tahu
yang berlebihan, sehingga kita bisa mengontrol hal-hal buruk yang akan menimpa
kita. Terlebih lagi jika kita bisa mengambil sisi positif dari rasa ingin tahu
tersebut sehingga kita mungkin bisa menemukan sesuatu yang bisa berguna bagi
khalayak banyak.
Di dalam semua aspek hidup,
orang harus selalu menggunakan empat cara berpikir. Dengan empat cara berpikir
ini, orang bisa mempertimbangkan segala sesuatu secara jernih. Dengan empat
cara berpikir ini, orang bisa mencapai kebahagiaan.
Yang pertama adalah pola
berpikir analitis. Analitis adalah tindakan memecah keseluruhan ke dalam
bagian-bagian. Dengan cara ini masalah, apapun bentuknya, bisa dipahami dengan
lebih sederhana. Dengan cara ini pula, orang bisa bekerja dengan tepat guna.
Yang kedua adalah pola berpikir
kritis. Kritis berarti orang tidak mudah percaya. Sebelum percaya atau menganut
sesuatu, orang perlu untuk mempertanyakannya, sampai ia menemukan dasar yang
kokoh untuk percaya. Dengan berpikir kritis orang tidak mudah terombang ambing
oleh kabar burung yang meresahkan.
Yang ketiga adalah pola berpikir
teknis. Berpikir teknis berarti berpikir tentang bagaimana cara melakukan
sesuatu, mulai dari cara menjual barang, sampai memperbaiki mesin yang amat
mekanistis. Berpikir mekanis berarti menyelesaikan masalah jangka pendek dengan
tepat guna.
Yang keempat adalah berpikir
reflektif. Dengan cara berpikir ini, orang diajak melihat ulang apa yang telah
dilakukannya. Ia diminta melihat sisi baik maupun sisi lemah dari sikap
hidupnya. Dengan menjalani proses ini, orang dipastikan akan selalu peka pada
kelemahan diri maupun lingkungannya.
Pertanyaan
:
Filsafat
adalah pola pikir. Bagaimana jika seseorang berpikir jika pola pikirinya yang
benar dan selalu benar?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar