Pembelajaran
yang baik harus melibatkan proses mental dan fisik siswa melalui kegiatan yang
memunculkan interaksi siswa dengan siswa, guru dan lingkungan. Dalam
pembelajaran matematika interaksi diperlukan siswa agar membantu mereka
menemukan konsep karena menurut Ebbut dan Straker (Marsigit, 2010) dalam hakikat
matematika sekolah, matematika adalah kegiatan penelusuran pola dan hubungan;
kreatifitas yang memerlukan imajinasi, intuisi, dan penemuan; kegiatan problem
solving; alat komunikasi. Hal tersebut mengimplikasikan bahwa dalam
pembelajaran matematika, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan pola-pola dalam matematika dan menentukan hubungan, melakukan
kegiatan memecahkan masalah, menggunakan konsep-konsep matematika untuk
menemukan solusi masalah.
Melalui
beragam metode pembelajaran yang inovatif dan kreatif guru memfasilitasi siswa
untuk mengembangkan kemampuan matematika mereka. Tujuan pembelajaran matematika
diantaranya adalah mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, penalaran dan
pembuktian matematis komunikasi matematis, koneksi matematis, dan representasi
matematis (NCTM, 2000: 29). matematika dengan aktivitas intelektual
lainnya.Seperti sudah dijelaskan di atas, koneksi matematika merupakan salah
satu komponen dari kemampuan berpikir tingkat tinggi. Sejalan dengan hal
tersebut, NCTM
(NCTM: 2000) menyatakan bahwa program pembelajaran di sekolah mulai dari
Pra-Taman Kanak-Kanak sampai dengan kelas 12 seharusnya memungkinkan siswa
untuk:
1)
Mengenali
dan menggunakan koneksi antar ide-ide atau gagasan dalam matematika.
2)
Memahami
bagaimana keterkaitan atau koneksi ide-ide dalam matematika dan menyusunnya
untuk menghasilkan
suatu hubungan yang koheren.
3)
Mengenali dan menawarkan matematika
dalam konteks-konteks permasalahan di luar matematika.
Untuk
mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, siswa dapat diberikan stimulus, atau
latihan berupa permasalahan sehari-hari dalam LKS untuk meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah tersebut. Banyak cara untuk mengembangkan kreativitas siswa,
salah satunya adalah memberikan kesempatan kepada mereka untuk membuat
karya-karya terkait konsep matematika. Hal ini dapat berupa hiasan-hiasan
dengan tema geometri, pecahan, bangun ruang, dan lain-lain. Dalam pembelajaran
sebaiknya guru perlu melakukan pembelajaran di luar kelas (outdoor). Ini untuk mengurangi atau menghindari kebosanan siswa
belajar di dalam kelas, juga untuk memfasilitasi siswa naturalis agar dia dapat
memaksimalkan belajarnya melalui lingkungan sekitar.
Dari
pengamatan aktivitas pembelajaran di Australia yang dilakukan oleh Marsigit
memberikan pandangan bahwa pembelajaran yang diharapkan itu harusnya
memunculkan ide-ide kreatif dan pikiran kritis dari siswa. Indonesia yang masih
terkurung dari sistem UN nampaknya menjadi salah satu penyebab pendidikan di
Indonesia rendah. Hal ini dikarenakan guru menjadi kurang kreatif untuk menggali
kemampuan siswa menyusun ide-ide mereka. Padahal melalui proses penemuan,
pembelajaran akan lebih bermakna sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman
yang akan menghasilkan intuisi. Intuisi merupakan hasil pemikiran langsung
tanpa perantara, tanpa adanya dalil-dalil sebelumnya. Intuisi itu sendiri
penting dalam belajar matematika.
Pengetahuan dapat menghasilkan intuisi. Kant
menjelaskan bahwa pengetahuan didefinisikan melalui pengamatan sehingga
kebenarannya bersifat korespondensi. Ilmu yang dijelaskan Kant bersifat
sintetik a posteriori. Cara memperoleh pengetahuan yaitu tanpa melihat obyek
konkretnya maka pengetahuannya akan bersifat analitik a priori, sedangkan kebenarannya
bersifat koherensi sehingga pengetahuan yang kuat merupakan sintetik a priori.
Sumber:
Marsigit. 2010.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 9: School Mathematics.
http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_5936.html
NCTM (National Council of
Teacher of Mathematics). 2000. Principles and Standard of School Mathematics.
Reston. VA: NCTM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar